Home
khongkauwhwee.or.id
Rayakan Cap Go Meh, Ratusan Siswa Dihibur Barongsai

Beragam atraksi barongsai, tarian dan makan lontong bersama menyemarakkan perayaan Cap Go Meh 2570 di pelantaran rumah abu Kong Tik Soe Jalan Gang Lombok Semarang, Selasa (19/2/2019). FOTO : SINDOnews/Ahmad Antoni

Atraksi barongsai dan tarian meramaikan perayaan Cap Go Meh 2570 di pelataran rumah abu Kong Tik Soe, Jalan Gang Lombok, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (19/2/2019).

Acara yang mengusung tema Kebersamaan dalam Perbedaan itu diikuti ratusan siswa Sekolah Gratis TK-SD-SMP Kuncup Melati Semarang. Dalam acara tersebut, mereka dan pengurus Yayasan Khong Kauw Hwee makan lontong Cap Go Meh.

Sebelumnya, acara diawali dengan menggelar doa bersama kepada dewa dan leluhur yang dipimpin oleh Hing Tiong di semua altar. Perlu diketahui, Peringatan Cap Go Meh merupakan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa. Biasanya peringatan Cap Go Meh dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan salah satunya dengan menyantap lontong. Namun rupanya lontong Cap Go Meh merupakan makanan perpaduan dari Indonesia dan Tiongkok yang sudah secara turun temurun dilaksanakan. 

Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee, Wong Aman Gautama menjelaskan, lontong Cap Gomeh merupakan sebuah pembauran dari nenek moyang dan meneruskan tradisi yang bertujuan untuk kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat Jawa. 

“Dengan selesainya Tahun Baru Imlek, masyarakat keturunan Tiongoa bisa bekerja lebih giat lagi dan berharap semuanya bisa lebih baik lagi dan maju di tahun depan,” ujar Aman.

Dia mengungkapkan, lontong Cap Go Meh dipercaya sebagai simbol perpaduan dua budaya, suasana meriah tahun baru dan simbol keberuntungan. Selain itu lontong yang dibungkus memanjang dianggap sebagai simbol usia panjang, kemudian telur yang menjadi pelengkap hidangan dianggap sebagai simbol keberuntungan.

Sedangkan untuk kaldu santan dan kunyit melambangkan emas yang merupakan simbol kemakmuran. Sedangkan untuk cerita dari nama Lontong Cap Go Meh sendiri, tambahnya, saat Laksamana Cheng Ho (Zheng He) berlabuh di Semarang, Jawa Tengah. Kemudian mengadakan lomba membuat sup terbaik untuk perayaan Cap Go Meh.

“Salah satu kepala desa ikut serta dan membuat menu spesial. Laksamana Cheng Ho mengatakan pada salah satu prajuritnya bahwa makanan kepala desa ini berada di urutan ke-15. Sehingga prajurit mengucapkan kalimat dengan dialek Hokkian, sehingga pengucapannya mirip "luan dang cap go mia".
 
Jelang Sin Cia, Bagikan Kue Keranjang

BERSUKA CITA : Ratusan siswa TK, SD, dan SMP Kuncup Melati, Kota Semarang bergembira mengangkat kue keranjang yang dibagikan oleh Yayasan Khong Kauw Hwee, Jumat (25/1) kemarin. NUR CHAMIM/RADARSEMARANG

RADARSEMRANG.ID, SEMARANG-Jelang perayaan Sin Cia yang jatuh pada 5 Februari mendatang, Yayasan Khong Kauw Hwee Semarang membagikan kue keranjang kepada ratusan siswa Kuncup Melati mulai dari TK sampai SMP, Jumat (25/1) kemarin. “Setiap tahun kami selalu membagikan kue keranjang secara gratis dan rutin kepada siswa,” kata Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee Semarang, Wong Aman Gautama.

Menurutnya, kue keranjang memiliki filosofi mendalam. Dibuat dari tepung ketan yang punya sifat lengket bermakna persaudaraan yang erat dan menyatu. Rasanya manis dari gula dan terasa legit menggambarkan rasa suka cita, menikmati keberkatan, kegembiraan, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam hidup.

Bentuknya yang bulat dari kue keranjang tanpa sudut di semua sisi, mengagumkan karena melambangkan pesan kekeluargaan tanpa melihat ada yang lebih penting dibandingkan lainnya. Dan akan selalu bersama tanpa batas akhir. “Diharapkan keluarga juga bisa berkumpul minimal satu tahun sekali sehingga tercipta kerukunan dalam hidup dan siap menghadapi hari-hari ke depan,” jelasnya.

Sedangkan tekstur dan daya tahan kue keranjang yang disantap saat Imlek mempunyai filosofi yakni kekenyalan yang merupakan simbol dari kegigihan, keuletan, daya juang, dan perasaan pantang menyerah untuk meraih tujuan hidup.

Proses pembuatan kue keranjang juga punya makna, waktu pengerjaan yang begitu lama yaitu 11–12 jam menuntut kesabaran, keteguhan hati, serta cita-cita untuk mendapatkan hasil maksimal.

“Usaha yang begitu keras dalam membuat kue, harus dilakukan dengan pikiran bersih dan jernih, penuh kesopanan serta konsentrasi tinggi sambil membebaskan hati dari prasangka buruk sehingga kue keranjang yang dibuat punya bentuk, rasa, dan tekstur sempurna,” paparnya.

Salah seorang siswa kelas 6, Liem Levina Margareta, mengatakan setiap tahun selalu mendapatkan kue keranjang dari sekolahan dan dimakan bersama dengan keluarga. “Memang setiap tahun selalu mendapatkan kue keranjang ini,” katanya. (hid/ida)

 

 

 
Kebersamaan dalam Makan Lontong Cap Go Meh

SEMARANG, suaramerdeka.com - Ratusan siswa Sekolah Kuncup Melati Semarang mengikuti makan bersama lontong dalam rangka Cap Go Meh di rumah abu Kong Tik Soe Jalan Gang Lombok Semarang, Sabtu (11/2). Sebelum memulai makan lontong bersama, pengurus Yayasan Khong Kauw Hwee dan Sekolah Kuncup Melati mengawali dengan berdoa kepada dewa dan leluhur.

Cap Go Meh merupakan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa. Biasanya Cap Go Meh dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan salah satunya dengan menyantap lontong. Rupanya lontong Cap Go Meh merupakan makanan perpaduan dari Indonesia dan Tiongkok yang sudah turun temurun dilaksanakan. Ada filosofi dari lontong Cap Go Meh yang berisi opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng, telur, abing dan bubuk kedelai.

Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee, Wong Aman Gautama mengatakan dengan makan lontong Cap Gomeh merupakan pembauran dari nenek moyang dan meneruskan tradisi yang bertujuan untuk kebersamaan dan mempererat persaudaraan. “Dengan selesainya Tahun Baru Imlek masyarakat keturunan Tiongoa bisa bekerja lebih giat lagi dan berharap semuanya bisa lebih baik lagi dan maju di tahun depan,” katanya.

Sutarso Pembimbing Masyarakat Budha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menyambut baik dilaksanakan kegiatan makan bersama lontong dalam rangka Cap Go Meh. Sebelum makan bersama terlebih dahulu dilaksanakan upacara keagamaan dengan penghormatan kepada para leluhur. Doa tersebut bertujuan untuk bangsa Indonesia terbebas dari mala petaka dan umat-umatnya memilikipanjang usia, paras bagus dan mendapat kekuatan dan kebahagiaan. “Empat hal itu merupakan harapan dari perayaan Cap Go meh ini,” pungkasnya.

Selain itu siswa Sekolah Kuncup Melati juga dihibur dengan atraksi barongsai cilik yang merupakan siswa yang mengikuti ekstrakulikuler seni Barongsai. (Cun Cahya/CN38/SM Network)

 
Jaga Tradisi Imlek, Yayasan Kuncup Melati Bagi Kue Keranjang

Siswa Sekolah Kuncup Melati menerima kue keranjang dari Yayasan Kuncup Melati dalam tradisi menjelang perayaan Imlek di sekolah mereka, Jalan Gang Lombok Semarang, Selasa (17/1). (suaramerdeka.com/ Cun Cahya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jelang perayaan Imlek, Yayasan Kuncup Melati melakukan tradisi tahunan dengan memberikan kue keranjang kepada 211 siswa Kuncup Melati di sekolah mereka Jalan Gang Lombok Semarang, Selasa (17/1).

Pemberian kue keranjang itu untuk melestarikan tradisi warga Tionghoa yang memang membagikan hadiah berupa kue keranjang kepada masyarakat.

Aman Gautama Ketua Yayasan Kuncup Melati mengatakan kegiatan bagi-bagi kue keranjang ini sudah dilakukan tujuh kali sejak ada sekolah ini berdiri.

“Setiap tahun menjelang imlek selalu memberikan makanan dan angpao kepada masyarakat terutama siswa dan tokoh masyarakat,” katanya.

Pemberian kue keranjang mempunyai arti agar di tahun-tahun yang akan datang diberikan keselamatan kebersamaan dalam satu keluarga seperti kue keranjang yang lengket dan legit seperti kue keranjang.

(Cun Cahya/ CN33/ SM Network)

 
Pembagian Tas dan Peralatan Sekolah oleh Pengurus Yayasan kepada peserta didik
 
« StartPrev123NextEnd »

Page 1 of 3


Copyright @ 2010 KhongKauwHwee. Allright Reserved. WebMaster